Badan Bugar Setelah Pijat di Nakamura

Sebagai praktisi SDM yang lebih banyak menggunakan kemampuan otak daripada fisik, rasa capek yang saya rasakan berbeda dengan bekerja fisik pada umumnya. Tuntutan profesi, kadang menyebabkan saya merasakan pusing yang berkepanjangan dan rasa beban di pundak. Semacam ada tekanan. Maka dari itu, tas saya tidak pernah lepas dari obat sakit kepala dan krim pelemas otot. Hingga akhirnya, seorang teman memberikan nasihat untuk mengurangi kebiasaan saya minum obat, karena tidak baik untuk ginjal. Dia menyarankan untuk mencari terapi alternatif seperti pijat refleksi. Maka, mulai dari tahun 2009 saya mulai meninggalkan kebiasaan minum obat dan berganti ke pijat refleksi.



Namun, mencari tempat pijat refleksi yang benar-benar bagus, ternyata ndak gampang. Hampir sebagian besar tempat refleksi di Surabaya dan Sidoarjo sudah saya jelajahi. Mulai dari yang eksklusif hingga yang ada di mall-mall. Beberapa kendalanya mulai dari,
Ada yang harganya cocok, tempatnya ndak nyaman...
Ada yang tempat nyaman, terapisnya bagus, tapi harganya ndak wajar...
Ada yang cocok tempat, cocok harga, cocok terapis, tapi jam kerjanya ndak jelas...
Macam-macam saja halangannya. Tapi yang paling utama adalah terapisnya, Beberapa penyedia kadang tidak melakukan standarisasi terhadap terapisnya, sehingga hasil yang dirasakan kalau ganti terapis bisa beda.

Belum lagi kalau sudah tugas keluar kota, suka nge-blank kalau sudah sangat penat dan jenuh, tapi harus coba-coba tempat pijat refleksi. Katakanlah saya sedang bertugas di Kediri atau Solo, kalau saya sudah nemu satu terapis yang cocok, ya saya harus menguatkan diri bertahan untuk bisa menservis diri dipijat saat sudah pulang. Untunglah, karena rajin mencari tempat pijat refleksi yang bagus, saya akhirnya memutuskan untuk berlangganan di Nakamura saja.

Hal ini bukan tanpa alasan. Saya sudah menguji mulai dari pelayanan dan standar kerjanya. Saya pernah mencoba di Cabang Tugu Pahlawan Surabaya, di Kediri, dan di Sidoarjo, hasilnya standar dan memuaskan. Saya jadi tidak tergantung lagi dengan terapis. Karena siapapun terapisnya, standar pekerjaannya sama. Sama-sama enaknya, sama-sama kualitasnya.

Karena sering berlangganan, khususnya Nakamura yang terletak di Komplek Ruko Pondok Mutiara Sidoarjo, beberapa saya sudah hafal dengan nama terapisnya. Kadang, saya juga memesan terapis berprestasi. Paket yang saya ambil Regular 2 jam. Harganya juga sangat bersahabat, cuma Rp130,000. Tapi kalau dipegang terapis favorit, cuma nambah Rp 10,000 jadi totalnya Rp 140,000.

Saran saya, buat sahabat yang mau merasakan pijat refleksi di Nakamura, lebih baik datang malam saja. Karena, nanti setelah pijat teman-teman akan disuguhi minuman. Kalau saya sih favoritnya wedang jahe. Alasan mengapa ambil pijat malam, karena saat pulang bisa langsung tidur. Rasakan deh bedanya. Hal lain juga yang saya suka adalah telapak kaki saya tidak licin karena terlalu banyak lotion. Minyak urut di Nakamura, walau dioles dikit, licinnya sudah maksimal. Jadi saat dibasuh di air hangat dan garam, bekasnya ndak bikin kaki licin saat nempel di keramik.

Gak lupa juga, karena pelanggannya Nakamura ini banyak, dan tidak bisa diprediksi kapan ramai kapan sepi, alangkah baiknya melakukan booking dulu. Kalau mau cek lokasinya yang terdekat dengan kamu, bisa klik di http://nakamura.co.id/location

Atau kalau kamu ada di satu kota dengan aku, catat saja listnya :

Nakamura Pasar Besar
Jl. Pasar Besar Wetan No. 24B
(031) 3533920 

Nakamura Darmo
Jl. Raya Darmo Permai Selatan No. 18 Surabaya 
(031) 7321988

Nakamura Citraland
Citraland G. Walk Shop House Blok W2-20+21 Surabaya 
(031) 57431272

Nakamura Sutorejo
Ruko Sutorejo Prima Utara PDD2 Surabaya Timur 
(031) 5913570

Tuh, lengkap kan... Mana ada yang se-profesional ini melayaninya. Semoga kalau ada umur panjang, bisa refleksi bareng ya guys, kali aja ada peluang yang bisa dishare

===================================================

*Tulisan ini dibuat dalam rangka mengikuti Nakamura Writing Competition. Bagi Anda pelanggan setia Nakamura yang ingin berpartisipasi, silakan share tulisan ini dengan hastag #NakamuraWritingCompetition dan daftarkan diri kamu di sini http://nakamura.co.id/read/nakamura-wraiting-competition-2016

Makelar Memakelari Makelar

Praktik ini biasanya terjadi pada bisnis properti.Itulah mengapa, sekarang ramai orang menjual rumah tapi di papan pengumumannya diulisi TP alias tanpa perantara.

Apa salahnya perantara ?
Bukankah mereka adalah marketing gratisan.

Menutup diri dari perantara, sama juga menutup atau membatasi saluran rejeki kita.
Nah, praktik makelar memakelari makelar itu terjadi bilamana kondisinya seperti ini :

Saya jual rumah, minta tolong Pak A dengan harga Rp X
Pak A punya kenalan Pak B, rumah saya diakui milik dia, kemudian ditawarkanya dg harga Rp X + A
Pak B punya temen C, kejadian yang serupa, sehingga harganya naik lagi jadi RP X + A+B
demikian seterusnya... Disinilah terjadi ketidak transparanan...

1. Produk yang bukan miliknya, diakui secara tidak sah (belum dibeli)
2. Terjadi ketimpangan harga yang terjadi di luar pengetahuan pemilik barang yang sah. Sehingga rentan cek cok di kemudian hari.

Bagaimana dengan MLM ?

Siapa Makelarnya ? Siapa juga yang dimakelari ?
Di MLM, saya membeli produk di perusahaan senilai Rp X
Ketika saya merekomendasi teman untuk menjadi member, maka dia pun MENDAPAT HARGA YANG SAMA dan MEMBELINYA LANGSUNG DI PERUSAHAAN, bukan melalui saya. Kecuali status dia adalah konsumen, ketika terjadi perbedaan harga, itu sah-sah saja, wong saya dagang.

Di MLM, semua transparan. Harga distributor berapa, konsumen berapa, komisi berapa.
Justru di dunia konvensional, kita bisa mengadopsi banyak metode dagang yang transparatif seperti ini.

Contoh sederhana saja, ketika mampir makan di sebuah warung kaki lima.
Di tempat yang baru pertama kali kita kunjungi. Tidak ada plank harga, cuma tulisan "BAKSO & ES CAMPUR"
Kita masuk, asal langsung pesan saja.. Dipikirnya paling juga sama dengan warung kaki lima yang lain.
Ternyata ketika bayar, harga per porsinya Rp 50rb. Anda makan sekeluarga, 4 orang, totalnya sudah Rp 200rb.
Belum tambah es campurnya, seporsi ternyata Rp 25rb, kali 4 sudah Rp 100rb. Totalnya Rp 300rb
Padahal cuma makan bakso, tapi habisnnya bisa Rp 300rb sekali andog (Red Jawa = Nongkrong)

Kecewa, gemes, sakit hati ?
yang tersenyum pasti pernah mengalami...

Makanya, perusahaan yang berkembang, mereka transparan.Tampilkan pricelist menu, bayar di depan. Kalau memang ndak cocok dengan harganya, ya ndak perlu ngomel... dan ndak perlu juga beli... Simple kan..

Kesimpulannya, bagi Anda yang tidak mengambil pilihan sebagai pebisnis MLM, juga jangan mendikotomikan sesuai dengan opini publik.
Tidak memilih, bukan berarti membenci...

Jujur, jika kita mau berhitung, katakanlah sebagai seorang karyawan.Ambil saja standar UMR jakarta Rp 2jt.
Dengan jam kerja 8 jam sehari, 25 hari sebulan, berarti Anda dibayar Rp 2jt untuk 200 jam kerja atau dengan kata lain dibayar Rp 10rb sejam.

Ya, mohon maaf, untuk nonton bioskop saja masih kurang... Buat beli es campur saja, habisnya bisa lebih cepat dari 1 jam...
Lagi-lagi saya cuma bisa bilang, kalau bukan karena pertolongan ALLAH SWT, saya yakin seutuhnya angka segitu ndak akan cukup untuk hidup...

Kalau sekadar bertahan hidup saja masih mungkin, tapi kalau untuk benar-benar menikmati hidup,
kita harus memiliki program akselerasi tersendiri...

Bagi yang gajinya diatas ini, tinggal dikali saja kan.

Semisal 10 kali lipatnya. Artinya kita bekualitas Rp 100.000 per jam.
Uang segitu, jika dibawa ke salon atau pusat bugaran seperti pijat refleksi saja bisa habis dalam kurun waktu kurang dari sejam.

Apakah jika demikian, tukang Es Campu, Tukang Salon, dan Tukang Pijit memiliki kemampuan menghasilkan uang lebih baik daripada Anda ?

Berapa banyak investasi yang Anda keluarkan untuk dapat sukses seperti sekarang ?
Pernahkah menghitung biaya pendidikan Anda mulai dari TK hingga perguruan tinggi ?

Berapakah biaya pendidikan Anda ketika TK, SD, SMP, SMA, hingga kuliah di sebuah Perguruan Tinggi ternama ?

Boleh percaya, boleh tidak, jika angkanya kita total, jumlahnya kurang lebih mencapai Rp 100.000.000 !!
Ya, Rp 100juta... Uang yang susah payah dikumpulkan oleh orang tua Anda,Bahkan mereka rela berpuasa, dan mungkin juga berhutang HANYA DEMI MENYEKOLAHKAN ANDA.

Relakah Anda, jika investasi pendidikan dari orang tua Anda yang nilainya ratusan juta tadi hanya hanya menghasilkan tidak lebih dari 2% per bulan atau 24% setahun ?

Sementara infilasi di Indonesia menyentuh 11% pertahunnya.Bagaimana dengan kenaikan gaji Anda ?
Berapa banyak orang di Indonesia yang memiliki penghasilan Rp 2juta hingga Rp 20 juta setiap bulannya ?
Apakah benar AndA BEKERJA HANYA BERHARAP UANG PENSIUNAN ?

Kegelisahan inilah yang sebenarnya mengetuk hati kami.
Andaipun hati Anda tidak bergetar, saya ucapkan selamat..
Karena pasti Anda memiliki kualitas hidup yang memang di atas rata-rata.

Berbisnis MLM adalah pilihan. Sebagaimana mendengar musik...
Ada pop, jazz, rock, juga dangdut.

Bukan berarti ketika Anda suka POP dan Saya suka dangdut,
citra saya jauh lebih rendah daripada Anda.
Walaupun jika mau jujur, pemegang royalti lagu termahal dan terkaya adalah adalah pemusik dangdut.
Karena memang dangdut is music of my country.... hehehehe...

Mari saling menghargai dan memuliakan.

Salam Iwak Peyek !! ^_^

Hukum 2 Akad 1 Transaksi di MLM

Selain perkara haram, ada juga yang menyebutkan perkara 2 transaksi dalam satu akad. Yaitu akad konsumen sekaligus akad makelar.

Apakah benar demikian ?

Imam syafi'i dalam suatu kajiannya, bercerita tentang seorang pemuda yang sedang melakukan perjalanan jauh. Karena lelah, dia bersandar di pinggiran sungai, sambil menikmati embusan angin sepoi-sepoi.Tak terasa ada sebuah apel yang hanyut, dipungut, dan dimakanlah.
Sampai akhirnya habis, si pemuda ini tadi baru ingat. Siapa pemilik buah apel ini ya ?Kalau ada pemiliknya, pasti dia mencari buah apelnya yang jatuh. Disusurinya sungai tadi, karena takut buah apel yang dimakan tadi menjadi haram... Hingga sampailah dia menemukan pohon apel yang tumbuh subur di pinggir sungai.Tak jauh dari situ, dia melihat ada sebuah rumah, pastilah dia pemilik pohon apel yang dia makan buahnya. Diketuklah, hingga pemilik rumah keluar, dan pemuda tadi menceriktakan kegelisahan akibat memakan buah apel tadi. Setelah mendengar kisahnya, si pemilik buah mengajukan syarat demikian,

"Baiklah, buah apelnya aku anggap lunas, jika kamu mau menikahi anakku"

Nah, disinilah konteks 1 akad dua transaksi ini diberlakukan.

"Hutangmu lunas, asal anakmu nikah sama anakku"

Ada unsur pemaksaan, ketidakjelasan nilai yang diperpindahtangankan, serta ada salah satu pihak yang merasa dirugikan.

Bagaimana dengan MLM ?

Menjadi anggota MLM adalah membeli kartu diskonnya. Agar kita dapat harga murah dan jika ada pembeli, kita bisa mengambil untung.
Di Surabaya, ada pasar GROSIR yang memberlakukan sistim kartu member, dulu namannya MAKRO, sekarang ganti menjadi LOTTE MART.

Dimana salahnya membeli kartu diskon ?

Kalau saya beli dengan harga diskon (harga distributor) kemudian barang yang saya beli ndak jadi saya jual, saya konsumsi pribadi (bertindak sebagai konsumen) apa salah ?

Kalau salah, aturan mana yang melarang pedagang mengonsumsi barang dagangannya sendiri ?

"bukan begitu pak, setelah menjadi member, saya diwajibkan harus belanja terus setiap bulan.. Kalau ndak begitu, saya ndak dapat bonus di MLM yang saya ikuti..."

Ok, sekarang saya tanya, BONUS itu HAK atau kewajiban ? (Hak..)
Kalau hak kan berarti boleh diambil boleh tidak.
Sekarang, apa syarat agar kita menerima bonus ?
Minimal, kita melakukan transaksi pribadi dan memiliki jaringan pemasaran yang muncul atas rekomendasi kita...
Artinya, kalau kita ndak melakukannya, ya ndak terima bonus...Kalau dilakukan, baru terima...

Kalau melakukannya dengan sungguh-sungguh dan hasil kerjanya bagus, bonus juga makin besar, insentif juga ditambah... Betul ndak ?

Belanja bukan wajib, tapi tanggung jawab.
Kalau Anda memilih MLM sebagai profesi, ya itulah kegiatan kerja Anda.
Siapa yang mau membayar mahal untuk orang yang cuma duduk-duduk diem sambil baca koran dan rokokan..
Jelas ndak ada...

Anda memiliki karyawan yang kerjanya sedikit, nuntut gajinya selangit pasti juga segera dipecat. Bonus yang dibagikan kepada member MLM, didapat dari bagi hasil penjualan. Lha kalau semua diem-dieman, belanja ndak, cerita ke orang juga ndak, jualan ndak, perusahaan MLM mau bayar pakai uang dari mana ?

Masa mau diminta "jaga lilin" ? Hehehe...

Bagi yang gabung MLM, hanya untuk dapat harga murah, juga boleh.
Jangan salah persepsi kepada oknum yang mewajibkan...
Itu pilihan..

Karena prinsip dasar MLM adalah merubah pengeluaran menjadi pemasukan, maka sebisa mungkin kebutuhan yang kita keluarkan, diolah kembali menjadi pemasukan.Sederhana kan...