Menu

Orang MLM Kehilangan Jati Diri

Tanya :
Ada satu pertanyaan dari saya pak,mumpung diskusi ttg MLM nih. Beberapa orang yg menjalankan MLM menurut hemat saya,cenderung kehilangan "jati diri-nya", nggak punya lagi be yourself-nya. Sejak bergabung dlm sebuah MLM sy melihat beberapa orang sudah bukan seperti mereka yg saya kenal dulu. Cara berpikir, cara bicara, subjek pmbicaraan, hampir selalu didominasi atau mengarah pada MLM-nya itu. Bahkan sy sempat berkelakar, kayaknya dia sekarang melihat manusia sudah bukan lagi melihat teman, saudara, atau apa, tapi melihat orang lain adalah sebagai sasaran atau mangsa atau calon downline! Hehe.. Ada satu pengalaman unik yg cukup membekas di benak saya ; saat ada sebuah acara kumpul2 santai, di situ orang2 yg datang ngobrol santai, saling menanyakan kabar, menceritakan hoby, ngobrol ngalor-ngidul..pokoknya santai lah.. Tapi ada seorang teman anggota MLM, di moment seperti itu dia juga berbaur menclok sana menclok sini, bukan utk ngobrol santai tapi untuk memprospek orang! hehehe.. Hasilnya bagaimana wallahu a'lam.. (Bener pak,sy nggak mengada-ada, asli ini true story

Jawab :
Wa'alaikum salam wr wb bapak.
Salam kenal kembali.

Terima kasih juga telah memberikan apresiasi positif. Apa yang saya lakukan sebetulnya bukan karena ingin membela diri ataupun melakukan propaganda MLM. Tapi lebih kepada mencoba menguji nalar saya dalam memilih sebuah pilihan bisnis.

Andaipun itu benar, kebenaran itu datangnya bukan dari saya, tetapi memang dari zat aslinya sudah benar. Hanya saja, seperti kata pak Ary Ginanjar - Founder ESQ, ketika persepsi / dzon itu menyelimuti akal budi kita, Maka selama itulah kita akan diperbudak mereka.

Katakan haq sebagai yang haq, batil ya batil...

Karena berbicara kebenaran itu ada 3 jenis..

Benar menurut diri sendiri,
Benar menurut orang lain/lingkungan sekitar,
dan Benar menurut Allah...

Nah, kita berbicara di konteks yang mana nih... Dan setiap kebenaran, wajib diuji keabsahannya kan.. (",)

Jika memang diperkenankan, saya ingin mengangkat harkat dan martabat sahabat saya diMLM apapun benderanya untuk dapat berkarya dan berkontribusi bagi masyarakat luas.

Meminjam istilah Pak Sandiaga Uno, 
"Saatnya pebisnis MLM setara ^_^ "

Kembali ke topik pertanyaan bapak, mengenai "jati diri" dan "be your self"

Jika pertanyaannya dikembalikan ke pak Ahmad, kira2 apa itu "jati diri" ?

Apakah benar dengan menjadi "be your self" akan membuat hidup Anda semakin berkilau di tahun 2013 ini...

Apakah arti sosok lama seorang sahabat Anda, dibanding dengan dirinya yang baru saat ini ?

Bicara mengenai pengalaman bapak tentang sahabat yang mendadak "Demam MLM", mungkin PR besar juga buat kami para trainer & leader MLM di Indonesia.

Kalau saya, mungkin lebih enak menganalogikan perilaku tersebut sebagai perilaku orang jatuh cinta...

Masih ingat ketika kita jatuh cinta pertama kali ?
Kesengsem dengan seorang bunga desa, dan ketika berkumpul bersama sahabat dekat kita, pagi siang sore malam, ceritanya si neng geulis terus. Yang dari kerling matanya lah, sibakan rambutnya lah, gemulai langkahnya, merdunya suaranya, dan semua hal tentang di bunga desa yang menjadikan kita sangat terpesona...

Atau yang gila bola, jika ada sebuah moment dimana terjadi kejadian langka, maka ketika bertemu, pasti rata2 akan "menggosipkan" ihwal yang sebetulnya sama-sama sudah diketahui... Ya terus terang, hal itu menjadi hal yang kurang bermanfaat...

Dan kami di dunia MLM, memang sebisa mungkin menghindari kegiatan yang tidak produktif. Jika kita mau menghitung, dalam sehari berapa banyak waktu yang terbuang untuk hal yang kurang produktif. Ndak usah jauh2, jika kita memiliki 6 karyawan. Di kantor, ketika jam produktif mereka membaca koran online, kemudian berdiskusi mengenai topik di koran tersebut yang tidak berkaitan dengan bisnis Anda. Katakanlah hal ini cuma terjadi 10 menit saja. Berarti dalam 1 hari, Anda kehilangan waktu 1 jam produktif. Sebulan 25jam. Setahun 300 jam. Dalam setahun waktu kita habiskan 300 jam untuk bercuap untuk sesuatu hal yang kita sudah sama sama saling ketahui.

Saya muslim, nabi saya berpesan, kualitas hidup seseorang bergantung bagaimana dari cara orang tersebut menggunakan waktunya.

Di saat kita mengeluh kehabisan waktu, kita justru melakukan pemborosan dengan hal yang kurang bermanfaat. Memang benar, dengan momen seperti itu, mendekatkan hati antara masing2 anggota. Atau dalam kamus jawanya, "Makan ndak makan, yang penting kumpul"

Kalau kami para MLMpreneur, ndak makan ya kelaparan pak.

Kami disini jujur mengakui ketertinggalan secara prestasi dibanding dengan sahabat pengusaha seperti yang ada di TDA. Yang sudah sukses, cabangnya dimana-mana, karyawannya ribuan, akses pasarnya sudah sampai ke luar negeri.

Maka dari itu, kami kejar perbedaan yang jauh tersebut dengan cara bekerja penuh semangat alias PASSION. Dan karena jenis pekerjaan kami adalah presentasi, maka yang kami lakukan adalah presentasi. Baik one on one, maupun masal. Andai dalam 24jam diberi kesempatan untuk tidak pernah lelah presentasi, mungkin kami juga akan presentasi sepanjang hari itu...

Bapak/Ibu pengusaha pun saya yakin memiliki masa lalu yang sama, ketika Anda benar-benar memiliki harapan besar terhadap bisnis yang sedang Anda kembangkan, dari pagi hingga petang pasti terbayang-bayang terus u/ bagaimana melakukan inovasi yang menyempurnakan model bisnis yang Anda pilih. Belum lagi, jika ternyata usaha Anda TIDAK DIDUKUNG oleh orang-orang di sekitar kita.

"Masa sudah di sekolahkan tinggi-tinggi, sudah dapat pekerjaan yang mapan, gaji tinggi, eeeh, kok malah ditinggal... Ngakunya pengen jadi pengusaha... Yang jualan kebab lah, bakso lah, es dawet lah...."

Sebetulnya antara pebisnis MLM dan pengusaha memiliki kesamaan karakter pak. Sama-sama ngeyelan.. Sama-sama ngotot pengen segera sukses, agar ndak lama-lama disindir dan yang lebih utama lagi, impian terbaik bersama keluarga segera terwujud.

Anda dalam praktiknya ada rekan seprofesi saya yang membuat njenengan tidak nyaman, lantaran bekerjanya "kemrungsung".. Saya mewakili beliau minta maaf ke njenengan. Semoga ke depan menjadi pembelajaran yang lebih baik,